Sunday, November 25, 2007

Umat Islam Riau Tolak Nasr Hamid Abu Zayd

Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual Mesir yang divonis murtad di negerinya, telah ditolak kehadirannya oleh umat Islam Riau. Penolakan itu dilakukan oleh MUI Riau bersama sejumlah Ormas Islam lainnya. Semula, pihak Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Agama memang menjadwalkan akan menghadirkan Abu Zayd dalam acara Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) in Indonesia VII, yang secara resmi dibuka oleh Menteri Agama, H. Maftuh Basuni pada Rabu malam 21 November di hotel Syahid Pekan Baru.


Tapi, penolakan terhadap Abu Zayd sangat kuat dari umat Islam Riau. Abu Zayd akhirnya batal hadir. Dalam pidato sambutan pembukaan ACIS VII, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Depag RI, Prof. Dr. Abdurrahman Mas'ud, MA, menjelaskan bahwa Abu Zayd tidak bisa datang karena satu hal. Namun katanya, Abu Zayd berjanji akan hadir pada acara International Seminar di UNISMA Malang, 26 November minggu depan (besok -pen).

Nasr Hamid Abu Zayd adalah tokoh liberal yang pendapat-pendapatnya sangat ekstrim, sehingga dia divonis murtad oleh Mahkamah Mesir. Dia lalu melarikan diri ke Leiden University. Dari sanalah, dengan dukungan negara-negara Barat, dia mulai mendidik beberapa dosen UIN/IAIN. Beberapa muridnya sudah kembali ke Indonesia dan menduduki posisi-posisiIndonesia dan menduduki posisi-posisi penting di UIN/IAIN.

Di Indonesia, para penghujat al-Quran di kampus-kampus UIN/IAIN hampir selalu menjadikan Abu Zayd sebagai rujukan. Dalam hasil penelitiannya terhadap perkembangan paham-paham keagamaan Liberal di sekitar kampus UIN Yogyakarta, Litbang Departemen AgamaYogyakarta, Litbang Departemen Agama menulis:

"Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Amin Abdullah mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melenggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini sudah menjadi kurikulum resmi di UIN/IAIN/STAIN seluruh Indonesia. Bahkan oleh perguruan tinggi Islam dinusantara ini hermeneutika makin digemari."


Lebih lengkap tentang kekeliruan pemikiran Abu Zayd bisa dilihat dalam buku "Al-Qur'an Dihujat", karya Henri Shalahuddin, MA (GIP, Jakarta: Mei 2007).

MUI Riau bersama MUI pusat saat ini telah menghimpun data-data pelecehan dan penghujatan al-Quran di lingkungan UIN/IAIN. Bahkan, di IAIN Surabaya, gugatan Surabaya, gugatan terhadap al-Quran sebagai Kitab Suci pernah menghebohkan, ketika seorang dosen di sana, secara sengaja menginjak lafaz Allah yang ditulisnya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa al-Quran bukanlah kitab suci, tetapi merupakan hasil budaya manusia. Kata dosen tersebut: "Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak berbeda dengan rumput." (Majalah GATRA, 7 Juni 2006).

Karena itulah, MUI Riau sangat berkeberatan dengan kehadiran orang-orang seperti Abu Zayd dan antek-anteknya yang secara jelas-jelas telah begitu melecehkan Kitab Suci al-Quran. Pola pikir orientalis Yahudi-Kristen sangat mewarnai tulisan-tulisan di berbagai jurnal, tesis, buku, dan artikel-artikel para penghujat al-Quran tersebut.

Dalam acara ACIS VII ini pun, sekali pun Abu Zayd tidak datang, tetapi buku karya murid kesayangannya, yaitu Dr. M. Nur Kholis Setiawan (dosen UIN Yogyakarta, yang disertasinya diterbitkan dengan judul "Al-Quran Kitab Sastra Terbesar") yang berjudul "Orientalisme, Al-Qur'an dan Hadis", telah diproyekkan untuk dibagikan kepada semua peserta ACIS VII. Yang menjadi pertanyaan kemudian, "Apakah relevansinya bagi kemajuan studi al-Qur'an di Indonesia sehingga buku Nur Kholish itu dijadikan proyek untuk dimiliki semua peserta?"

Adalah aneh, jika sosok Abu Zayd yang jelas-jelas menghina dan menghujat al-Quran dan Imam Syafii dalam berbagai karyanya justru dipromosikan pemikirannya oleh Departemen Agama RI. Lebih aneh lagi, pihak panitia ACIS sama sekali tidak menghadirkan pembicara yang mampu mengkritik pemikiran Abu Zayd. Padahal, dalam semboyannya ditulis: "ACIS: Barometer Perkembangan Studi Keislaman di Indonesia".

MUI Riau memandang aneh dengan semboyan ACIS tersebut, mengingat, selain Abu Zayd, pembicara dari luar negeri yang diundang oleh panitia, tidak ada satu pun yang dikenal oleh umat Islam sebagai ulama-ulama terkemuka, tetapi justru para orientalis Barat dan orang non-Muslim. Mereka adalah: Prof. Mark Woodward, Ph.D., Prof. Ron Lukens Bull, Ph.D., dan Prof. Peter Suwarno, Ph.D yang diundang untuk berbicara tentang Islam.

Prof. Peter Suwarno, Ph.D yang saat ini menjabat sebagai associate director of the School of International Letter and Cultures at Arizona State University USA, di awal mengatakan bahwa dia bukan ahli agama dan tidak tahu banyak tentang Islam. Dia memang dikenal kedekatannya dengan Prof. Abdurrahman Mas'ud yang sering berkunjung ke Arizona. Peter menamatkan S1-nya di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Para pembicara seperti itukah yang dikatakan akan dijadikan sebagai "BAROMETER STUDI ISLAM DI INDONESIA?" Disamping itu, diantara tema-tema yang dibincangkan adalah isu utama dalam paham liberalisme di bidang keagamaan, baik yang dipaparkan secara halus maupun kasar. Di antara tema-tema yang disetujui untuk dilombakan dalam debat di acara pekan ilmiah mahasiswa dalam rangkaian kegiatan ACIS VII adalah sebagai berikut:

- Formalization of Syariah as the Real Enemy of Democracy (=Formalisasi Syariah sebagai Musuh Nyata Demokrasi)
- Ranjau Formalisasi Syariat
- Mendamaikan Syariat Islam dengan demokrasi Pancasila
- Pancasila dalam kepungan formalisasi Syari'ah Islam.
- Menolak Poligami: ditinjau dari berbagai pendekatan
- Pembaharuan Hukum Islam dalam konteks keindonesiaan merupakan suatu keharusan
- Benarkah poligami sebagai sunah nabi?

Ditilik dari tujuannya, sebenarnya ACIS merupakan acara yang bertujuan mulia. ACIS VII ini mengusung tema utama: "Konstribusi ilmu-ilmu keislaman dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan pada millenium ketiga". Dalam pelaksanaannya, tema utama
tersebut dirinci dalam lima bidang yang mencakup: a)lima bidang yang mencakup: a) Islam, politik dan ekonomi global. b) Islam dan masalah hak asasi manusia (HAM). c) Islam dan masalah pendidikan global. d) Islam an hegemoni budaya global. e) Islam dan masalah kesehatan, lingkungan dan perkembangan IPTEK.

Oleh sebab itu, harusnya, pihak Depag dan panitia berembuk dengan ulama-ulama Islam lainnya untuk menyusun acara. Bukan malah menghadirkan para pembicara yang sudah dikenal sebagai tokoh-tokoh Liberal, baik di Indonesia maupun di dunia internasional.

Sebagai lembaga pemerintah, harusnya Depag berpikir lebih serius dalam mengembangkan studi Islam di Indonesia, demi kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia. Dalam hal pengembangan pemikiran liberal, sikap MUI sudah jelas melalui fatwanya no. 7/MUNAS/MUI/II/2005 yang mengharamkan penyebaran paham liberal di Indonesia. Juga, pemikiran yang meragu-ragukan keotentikan al-Quran, oleh MUI dimasukkan ke dalam salah satu kriteria ajaran/aliran sesat.

[Dikutip dari Siaran Pers MUI Riau Nomor: A-187/MUI-R/XI/2007 Tentang: "Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) in Indonesia, Indonesia VII". Pekanbaru, 22 November 2007]


Selengkapnya.....

Tuesday, November 20, 2007

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.



Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

"Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri," kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing. [dari milis pksplus@yahoogroups.com]

Selengkapnya.....

Saturday, November 17, 2007

Perluasan Da’wah Berdampak Penurunan Kualitas?

Oleh: Ibrahim Natawijaya

Ketika tuntutan da’wah mengarahkan kerja kita pada perluasan wilayah da’wah dengan peningkatan rekrutmen kader, muncul penilaian di sementara kalangan bahwa kualitas kader-kader baru semakin menurun. Benarkah ini? Bagaimana kita memandang persoalannya?

Bila dilihat secara permukaan, sangat mungkin penilaian itu benar. Tetapi dengan cara pandang yang utuh, kita bisa menguji kembali keabsahan penilaian itu. Ada hal-hal prinsip yang harus dipahami.

Pertama, perluasan da’wah berarti memperluas wilayah interaksi da’wah ke berbagai unsur dan segmen masyarakat yang sangat beragam. Keberagaman sosio-demografis, tentu saja berpengaruh kepada keberagaman standar kualitas penerimaan da’wah. Dalam sunnah da’wah, as-sabiqunal awwalun selalu memiliki standar kualitas lebih tinggi dari generasi berikutnya.



Sampai kemudian terjadi upaya tajdid (pembaharuan) atas kualitas generasi berikutnya. “Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga keni’matan. Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang kemudian.” (QS. 56:11-14).

Generasi awal da’wah ini direkrut dari unsur pemuda terdidik yang memiliki kesiapan optimal untuk menjadi anashir da’wah yang muntij (produktif). “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS. 18:13-14).

Sekarang ini, perluasan da’wah menghasilkan rekrutmen dari beragam segmen (misalnya: kaum pekerja, ibu rumah-tangga, buruh, dan lain sebagainya) dengan keberagaman tingkat penerimaan Islam dan keberagaman tingkat interaksi da’wahnya. Sehingga sangat mungkin di antara mereka ada orang-orang seperti digambarkan dalam ayat: “Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk”. Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 49:14).

Kedua, perluasan wilayah da’wah juga menuntut pengembangan pada uslub (metode), wasilah (sarana) dan ijro’at (mekanisme) rekrutmen dan pembinaan. Pada generasi awal da’wah, ada kebutuhan percepatan proses pembinaan ke arah takwin (pembentukan). Sehingga dalam waktu relatif singkat, terbangun komitmen Islam dan komitmen da’wah yang kuat. Lalu semakin dimatangkan dengan interaksi da’wah secara langsung. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. 3:104).

Ketika terjadi perluasan da’wah, proses pengkondisian dan seleksi da’wah berjalan lebih panjang. Ini penting, untuk mengukur tingkat kesiapan penerimaan da’wah sehingga kita tidak memberikan beban melampaui kadar kemampuan obyek da’wah. Metode, sarana dan mekanisme rekrutmen serta pembinaan pun dikembangkan sedemikian rupa, sehingga bisa menjangkau dan menampung obyek da’wah secara lebih masal. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. 5:35).

Bila kita amati perkembangan da’wah ‘ammah (umum) dalam 5 sampai 10 tahun terakhir, ada banyak ijtihad dalam pola rekrutmen dan pembinaan da’wah. Ini hal yang baik dan dimungkinkan, karena ada dalam wilayah mutaghayyirat (hal-hal yang dinamis).

Ketiga, da’wah Islam sesungguhnya membutuhkan sangat banyak anashir dengan beragam kondisi dan kemampuannya. Di antara mereka ada yang dijadikan qaidah siyasiyah (basis kepemimpinan), qaidah fikriyah (basis pemikiran), qaidah harakiyah (basis gerak) dan juga qaidah ijtima’iyah (basis sosial). Bahkan dalam sunnah da’wah, qaidah ijtima’iyah harus jauh lebih besar dari basis-basis da’wah lainnya. Perbedaan setiap qaidah tentu saja mengarah kepada perbedaan standar kualitas yang dimiliki. Sehingga yang dibutuhkan dalam melihat keberagaman standar kualitas adalah pada siasat untuk menempatkan dan mendayagunakan anashir tersebut dalam bangunan amal jama’i da’wah. Perhatikan firman Allah SWT:

“Katakanlah: Hai kaumku, bekerjalah kamu sesuai dengan keadaanmu. Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui…” (QS. 39:39).

Terakhir, tentu saja Allah SWT telah meletakkan miqyar ‘aam (standar umum) dalam menilai keimanan dan keshalehan seseorang. Parameternya disebutkan dalam banyak ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga bingkai besar kita dalam menilai dan menimbang kualitas kader adalah pada timbangan Islam itu sendiri. Tidak lebih dan tidak kurang. Firman Allah SWT: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kami mengurangi neraca itu.” (QS. 55:7-9). Jadi selama aspek-aspek kualitas kader da’wah tidak keluar dari bingkai umum ajaran Islam, maka mereka adalah kader yang berkualitas.

Mensikapi “Kesalahan” Kader

Dari keempat prinsip ini, kita akan mampu melihat masalah ini secara lebih utuh dan obyektif. Akan tetapi, barangkali ada yang menyoroti menurunnya kualitas dari sisi terjadinya kasus-kasus pelanggaraan syari’at dalam beberapa aspek kehidupan. Baik dalam urusan mu’amalah ataupun da’wah. Bagaimana ini?

Bila ini terjadi, memang hal yang memprihatinkan. Karena sejatinya kader-kader da’wah menjadi orang-orang terdepan dalam melakukan kebajikan dan juga terdepan dalam meninggalkan kemunkaran. Tetapi manusia adalah tempatnya kesalahan. Dan Allah SWT menyediakan sifat Pema’af, Pengampun dan Penerima Taubat kepada manusia-manusia beriman yang melakukan kesalahan. Artinya kesempurnaan ajaran Islam muncul ketika Islam menerima kesalahan perbuatan manusia sebagai keniscayaan, dan memberikan jalan bagi perbaikannya. Ini tinjauan dari sisi manusia sebagai individu.

Tinjauan lain adalah proses tasyri’. Sebagian dari syari’at Islam diturunkan Allah SWT karena kasus-kasus kesalahan yang dilakukan nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Penetapan hukum ini berkaitan dengan urusan rumah-tangga, jual-beli, makan-minum, ibadah, da’wah dan juga jihad. Artinya, ketika terjadi kesalahan-kesalahan dalam komunitas da’wah, maka hal itu mesti diperlakukan dalam perspektif tasyri’.

Di sinilah kemudian pola hubungan qiyadah-jundiyah diberlakukan dalam konteks penerapan syari’at Islam. Perhatikan firman Allah SWT: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan izin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan. Dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. 4:64-65).

Dalam kaitan ini, maka da’wah dan jajaran qiyadahnya di semua lini harus mampu mengelola masalah-masalah semacam ini untuk pengokohan tahqiq as-syari’ah dalam kehidupan berjama’ah. Juga untuk mematangkan kualitas kader ketika mereka belajar banyak dari kesalahan-kesalahan yang terjadi. Marilah kita mengambil ibrah dari kisah Haditsul-Ifki yang menggegerkan itu. “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong iyu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.” (QS. 24:11).

Pada sisi lain, ketika ada sementara orang yang sulit diperbaiki dari kesalahan-kesalahannya, sangat mungkin ia merupakan cara Allah untuk membersihkan shaf da’wah. “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya diantara rasul-rasulNya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya.Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (QS. 3:179).

Jalan Memperbaiki Kesalahan

Dengan memahami pandangan yang lebih utuh tentang kualitas kader dan kasus-kasus kesalahan yang terjadi, diharapkan kita bisa melihat persoalan dalam perspektif obyektif, positif dan ke depan. Namun begitu, bukan berarti kita mengabaikan persoalan-persoalan penurunan kualitas yang sementara ini terjadi.

Manajemen da’wah yang baik, tentu saja harus mampu melakukan tiga hal sekaligus dalam menghadapi permasalah ini. Yaitu tindakan antisipatif agar masalah masalah tidak meluas atau terulang kembali. Lalu tindakan responsif, yaitu menanggapi secara cepat berbagai gejala permasalahan sehingga bisa teratasi dengan cepat dan tuntas. Lainnya adalah tindakan kuratif, yaitu menyelesaikan dan memperbaiki kasus-kasus permasalahan yang ada di kalangan kader.

Terkait dengan tindakan kuratif (‘ilaj), dalam da’wah ini tersedia tiga pendekatan. Pertama adalah ‘ilaj ukhawi. Yaitu menyelesaikan permasalahan melalui pendekatan ukhuwah. Setiap kader memiliki hak untuk menerima taushiyah dan sekaligus berkewajiban melakukan taushiyah. Bahkan dalam budaya da’wah, ketika seseorang melihat kesalahan saudaranya secara langsung, ia akan segera menegurnya dengan cara yang baik, dan bukan mengadukannya kepada orang lain. Inilah hakikat taushiyah bil-haq, bis-shabr dan taushiyah bil-marhamah.

Ketika teguran sudah diberikan, kita harus menunggu beberapa waktu untuk melihat apakah saudara kita itu mau memperbaiki kesalahannya. Manakala teguran kita tidak berhasil, baru kita bisa menceritakan dan meminta bantuan orang lain untuk memperbaikinya. Tentu saja orang itu adalah pihak yang memiliki otoritas, kemampuan atau kedekatan terhadap kader yang bermasalah. Menceritakan kasus atau aib saudara kita kepada orang lain yang tidak dalam kualifikasi ini, sudah termasuk perkara ghibah.

Hal lain yang penting, ketika kita menemukan seorang kader yang melakukan kesalahan atau memiliki aib, salah satu tugas kita adalah menutupi aib itu dari orang lain. Dan kita harus tetap memandang saudara kita itu dari sisi-sisi kebaikannya, agar kita tetap mampu bergaul dan beramal jama’i. Dalam suasana seperti ini, kita akan terus berupaya mengarahkan dan mengingatkan saudara kita itu, agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Ini adalah bentuk lain taushiyah melalui bimbingan atau arahan amal.

Kedua adalah ‘ilaj tarbawi. Yaitu mengatasi permasalahan yang dialami kader melalui taujihat tarbawiyah dalam forum-forum pembinaan. Fadzakkir, inna dzikro tanfa’ul mu’minin. Sangat mungkin, seseorang melakukan kesalahan akibat ketidakpahamannya (‘adamul-fahm) akan suatu persoalan. Dengan diberikan ilmu tentang hal itu, masalah yang ada akan bisa diselesaikan. Untuk itulah, seorang murabbi dan muwajjih harus peka dan mampu mengidentifikasi persoalan-persoalan yang berkembang di kalangan kader. Sehingga taujihat tarbawiyah yang diberikan secara rutin, bisa diarahkan secara lebih spesifik. Perhatikanlah, taujihat Rasulullah kepada para sahabat dalam forum-forum pembinaan, biasanya sangat spesifik dan sering berangkat dari kasus-kasus tertentu yang terjadi di lapangan amal.

Ketiga adalah ‘ilaj tanzhimi. Harakah kita adalah munazhzhamah. Ada ijro’at tanzhimi (mekanisme dan aturan organisasi) yang mengikat kita. Ketika suatu kesalahan yang dilakukan kader tidak mampu diatasi dengan ‘ilaj ukhawi dan ‘ilaj tarbawi, maka dengan otoritasnya, da’wah bisa melakukan ‘ilaj tanzhimi. Jajaran qiyadah di berbagai jenjang struktur harus mampu menggunakan otoritasnya. Pada titik ini, seorang kader akan dihadapkan pada pilihan-pilihan komitmen da’wah-harakahnya. Karena keta’atan pada jama’ah dan qiyadah adalah salah satu kewajiban asasi dalam amal jama’i. “Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS.4:59).

Ketika ‘ilaj tanzhimi dilakukan, maka di antara otoritas da’wah dan qiyadah adalah menetapkan uqubah (sanksi). Hakihat uqubah adalah sebagai bukti adanya kesalahan yang telah dilakukan, sebagai konsekuensi yang harus dibayar dari kesalahan itu dan sebagai jalan untuk mengingatkan serta mengembalikan orang yang bersalah kepada jalan kebenaran. Oleh karena itu, uqubah menjadi sangat penting agar kewibawaan da’wah dan kewibawaan Islam tetap terpelihara. Tentu saja, ini harus dilakukan oleh pihak yang benar-benar berwenang, dengan aturan yang jelas dan syura yang mendalam. [imngrh]

Selengkapnya.....

Friday, June 23, 2006

Metode Abyan

BOGOR - Selama ini kita banyak mengenal metode membaca Al Qur'an seperti Qiroati, Al Barqi. Namun ada satu metode yang cukup unik yang ditemukan oleh seorang ustadz bernama Umar Ash-Shidiq. Ustadz yang tinggal di kawasan Cemplang Baru, Bogor Barat, ini lebih senang menyebut temuannya dengan metode Abyan.

Menurutnya, metode Abyan lebih unggul dibanding metode-metode membaca Al Qur'an yang selama ini ia pelajari. Karena tanpa persyaratan yang rumit seorang murid yang tidak mengerti huruf Al Qur'an, hanya dalam waktu dua jam sudah bisa membaca Al Qur'an. Berbekal selembar kertas yang berisi petunjuk metode tersebut, Ustadz Umar malang melintang mengajarkan temuannya. Hal ini sudah ia praktekkan dibanyak tempat dan terbukti berhasil. Bahkan katanya metode yang sama bisa digunakan bagi orang-orang yang ingin cepat bisa membaca kitab kuning (Arab gundul).



Saat ditanya mengapa metodenya tidak dibukukan, ustadz Umar menjawab bahwa ia tidak ingin membebani pikiran muridnya dengan tebalnya buku yang harus dibaca dan dipelajari. Justru itu yang ia hindari. Muridnya harus fokus pada pelajaran bukan pada tebal dan banyaknya rumus yang harus dipelajari, imbuhnya.

Ustadz yang mengaku sempat menyelami dunia hitam (preman) ini, saat ini sedang membangun sebuah pesantren khusus membaca Al Qur'an dan kitab-kitab klasik. Ia mengharapkan bantuan dari para muhsinin untuk merealisasikan cita-citanya tersebut. [imngrh]

Selengkapnya.....

Thursday, June 22, 2006

Pesantren Penjara

BOGOR - Tak terasa air mata membasahi pipiku begitu para santri dan santriwati mendapatkan sertifikat kelulusan. Haru dan gembira bercampur jadi satu melihat mereka satu per satu menerima sertifikat dengan sukacita. Mereka menjadi bagian dari 52 santri dan santriwati yang hari ini Kamis (21/6) dinyatakan lulus membaca Al Qur'an oleh tim pengajar dari Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor.

Yang menarik dari acara kelulusan ini adalah para santrinya. Mereka bukan anak-anak TPA atau anak-anak sekolah. Tapi mereka adalah para narapidana dan tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Paledang, Bogor. Ya memang sejak bulan April 2006, Lapas Paledang membuka program pesantren di kalangan para narapidana dan tahanan. Tentu saja sambutannya sangat antusias. Dari 1571 warga binaan (begitu orang-orang Lapas menyebut para narapidana dan tahanan) paling tidak 450 orang menjadi santri dan santriwati di lapas tersebut.



I Wayan Sukerta, Kepala Lapas Paledang, mengatakan bahwa dirinya ingin mengubah citra lapas yang selama ini cenderung menjadi tempat orang-orang terbuang dan tidak berguna. Makanya, ia bersama teman-teman dari lapas berinisiatif membuat pondok pesantren Al Hidayah. Tadinya ia skeptis program ini akan berhasil, apalagi persepsi orang tentang lapas kurang mendukung digulirkannya program tersebut. Tapi dengan keteguhan sikapnya ia tetap maju terus. Ia melihat di tengah-tengah warga binaan masih ada secercah harapan untuk berubah. Setitik harapan inilah yang ia manfaatkan untuk membuat pesantren. Apalagi ada beberapa orang dari warga binaan yang bisa diandalkan untuk diajak kerjasama.

Manfaatnya luar biasa. Dengan metode Abyan, seorang warga binaan yang tidak bisa baca tulis Al Qur'an sama sekali, langsung bisa membaca dan menulis sekalipun masih dalam tahap awal. Seorang santri bernama Dedi mengaku bahwa ketika dirinya masih diluar penjara tidak bisa membaca Al Qur'an apalagi menulis. Namun setelah ia menjadi santri selama 2 bulan, ia bisa membaca dan menulis. Penuturan ini dikemukakannya ketika ia didaulat teman-temannya untuk tampil kedepan mengemukakan kesan-kesannya selama mengikuti pesantren.

Alhasil jadilah pesantren di tengah-tengah penjara. Semoga tetap berlanjut program pesantren ini dan melahirkan para santri-santriwati yang berguna bagi bangsa dan masyarakat. Semoga juga mereka dapat mengamalkan ilmu yang didapatnya dan bisa dijadikan penopang hidup. [imngrh]

Selengkapnya.....

Wednesday, June 21, 2006



Kunjungan ke Batam (15/6/2006) dengan latar belakang Jembatan Barelang. Gambar diambil pukul 13.21 wib dengan Hp Nokia 6610i, resolusi 352 x 288. [imngrh]

Selengkapnya.....

Tuesday, June 20, 2006

Rapat dan Rapat Lagi

BOGOR - Nggak kebayang dalam pikiranku, ternyata jadi Anggota Dewan itu kerjanya cuma satu: Rapat dan rapat lagi.

Setiap ketemu masalah, ujung-ujungnya cuma satu. Ya rapat itu. Duh sedih banget rasanya kalau semua masalah ujung-ujungnya hanya diselesaikan dengan rapat dan rapat lagi. Apa emang itu kerjaan Dewan?



Emang sih kalau diliat dari tupoksinya dewan itu punya kerjaan paling tidak dalam tiga hal, yaitu: legislasi, penganggaran dan pengawasan. Legislasi ya ngerumusin permasalahan hingga jadi aturan. Penganggaran ya ngatak-ngatik uang yang keluar masuk sampe uang tersebut digunakan untuk program pembangunan apa saja. Dan pengawasan ya pastinya dah jelas ngawasin pelaksanaan pembangunan supaya tidak menyimpang dan salah urus.

Tapi ya itu tadi...semua tugas dewan tadi biasanya ujung-ujungnya ada di rapat dan rapat lagi. Untuk buat aturan kita harus rapat panitia legislasi, rapat panitia khusus raperda, dan rapat evaluasi. Untuk ngurusin uang kita juga harus rapat panitia anggaran yang sangat bertele-tele dan bernginap-nginap. Belum lagi rapat panmus, pansus, Badan Kehormatan dan lain-lain.

So, kayaknya dewan digaji buat rapat kali ya? Memang ada seloroh dari orang tentang kerjaan dewan: "Apa sih pekerjaan dewan?". dijawab olehku: "Ya, rapat!". [imngrh]

Selengkapnya.....